Cari Artikel Disini

Tampilkan postingan dengan label bunuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bunuh. Tampilkan semua postingan

Kejam Ibu Kandung Tega Bunuh Anaknya Sendiri

@IkadaNewsOnline - Kejam Ibu Kandung Tega Bunuh Anaknya Sendiri - Peribahasa seganas-ganasnya harimau, tak akan memakan anaknya sendiri, sepertinya tidak berlaku bagi wanita ini.

Sebab, Pengadilan Negeri (PN) Osaka, Jepang memvonis Sanae Shimomura (24) dengan hukuman 30 tahun penjara, karena terbukti telah membuat kedua anaknya kelaparan.

Seperti dilansir NHK, Jumat (16/3/2012), Shimomura didakwa membunuh kedua anaknya yang berusia tiga tahun dan satu tahun.

Ibu muda ini mengunci buah hatinya di apartemennya selama 50 hari pada 2010, sehingga mengakibatkan keduanya tewas.

Hakim PN Osaka Masaki Nishida mengatakan, kedua anak Shimomura sudah lemah akibat tak diberi makanan yang cukup. Seharusnya, terdakwa tahu akibat fatal yang membuat keduanya mati jika tetap mengunci mereka.

Nishida geram membayangkan keputusasaan anak-anak yang menderita itu. Shimomura seharusnya mencari bantuan, dan bukan malah membuat anak-anaknya semakin menderita.

Untuk mencegah terjadi insiden serupa, sang hakim meminta dukungan sosial bagi orangtua yang kesulitan membesarkan anak mereka.

Bila Anda Mendengkur Saat Tidur, Itu Bisa Jadi Pembunuh Paling Sadis

@IkadaNewsOnline - Bila Anda Mendengkur Saat Tidur, Itu Bisa Jadi Pembunuh Paling Sadis  - Waktu tidur yang disertai dengan dengkuran kerap dianggap sebagai tidur yang nyenyak. Padahal, orang yang sering mendengkur saat tidur apalagi jika kerap berhenti napas berisiko tinggi menderita stroke dan penyakit jantung.

Ketika kita tidur, otot di langit-langit mulut, lidah, dan tenggorokan berada dalam kondisi rileks sehingga sering terjadi sumbatan jalan napas. Kondisi tersebut menyebabkan daerah di sekitar sumbatan bergetar, sehingga timbul suara yang kita kenal dengan dengkuran atau ngorok.

Mendengkur sendiri merupakan gejala utama obstructive sleep apnea/OSA. Menurut dr.Rimawati Tedjakusuma, spesialis saraf dari Rumah Sakit Medistra Jakarta , OSA adalah henti napas saat tidur yang terjadi berulang-ulang karena sumbatan jalan napas atas yang diikuti dengan menurunnya kadar oksigen darah.

"Pada orang yang menderita OSA berat, henti napasnya bisa terjadi lebih dari 30 kali dalam satu jam. Malah, ada pasien saya yang mengalami henti napas sampai 150 kali per jam," katanya dalam acara seminar dalam rangka World Sleep Day di RS Medistra Jakarta, Kamis (15/3/12).

Berbagai penelitian menunjukkan kaitan antara OSA dengan penyakit kronis seperti gangguan irama jantung, stroke, hipertensi, dan diabetes. Penelitian yang dilakukan Rimawati di RS Medistra pada tahun 2011 menunjukkan hampir 41 persen pasien OSA menderita hipertensi.

"Saat henti napas, otak akan memerintahkan supaya tubuh mendapatkan oksigen sehingga kita terbangun. Kondisi ini menyebabkan tekanan darah meningkat sehingga lama-lama dinding pembuluh darah rusak. Hal ini akan memicu peradangan. Pembuluh darah yang rusak juga akan menarik kolesterol sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah," papar dokter yang mendalami masalah tidur ini.

Henti napas yang terjadi berkali-kali dalam satu malam juga akan menggangu tidur sehingga esok harinya kita akan terbangun dalam kondisi lemas, sakit kepala, konsentrasi menurun, serta mengantuk sepanjang hari.

"OSA juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas dan juga ditempat kerja. Selain itu penderitanya juga berisiko menderita depresi dan kecemasan. Mereka juga berisiko dua kali lipat terkena stroke," katanya.

Untuk itu, segera periksakan diri jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut di atas. "Mendengkur sekali-kali mungkin normal. Tetapi jika setiap kali tidur selalu mendengkur waspadai OSA," katanya.

Kendati lebih sering dialami oleh orang dewasa, namun bayi dan anak-anak juga bisa menderita OSA. "Biasanya karena pembesaran amandel, obesitas, atau kelainan bentuk wajah dan lingkar leher," ujarnya.

Agar terhindar dari komplikasi akibat OSA, segera periksakan diri ke dokter untuk mengidentifikasi penyakit dan mengatasinya. Pada OSA yang ringan, biasanya dokter akan menganjurkan penurunan berat badan atau mengubah posisi tidur.

Sementara itu pada OSA yang berat terkadang diperlukan tindakan pembedahan. Penggunaan alat bantu untuk membuka jalan napas seperti CPAD (continous positive airway pressure) juga dinilai membantu mencegah perburukan akibat OSA. Alat ini akan memberikan aliran udara bertekanan lembut melalui hidung atau mulut menggunakan masker. Tekanan udara akan mencegah menyempitnya dan menutupnya saluran napas sehingga pasien bisa bernapas leluasa selama tidur.

sumber: kompas.com

Edan...Usai Membunuh, Pria Ini Memakan Otak Dan Mata Korban

@IkadaNewsOnline - Edan...Usai Membunuh, Pria Ini Memakan Otak Dan Mata Korban - Connecticut - Dengan tangan diborgol, Tyree Lincoln Smith berdiri dengan tatapan kosong saat dirinya didakwa dengan pasal pembunuhan di pengadilan Connecticut, Amerika Serikat (AS). Smith membunuh Angel Gonzalez dan lebih keji lagi, pria berumur 35 tahun itu memakan otak dan mata korban!

Seperti diberitakan Telegraph, Kamis (2/2/2012), jaksa penuntut Donal Collimore mendesak hakim untuk memberikan hukuman seberat-beratnya kepada Smith atas kejahatan sadis yang dilakukannya.

Talitcha Frazier, seorang saudari ipar korban, mengatakan dirinya bertemu dengan Smith di jalan. "Saya pikir saat itu saya bilang padanya untuk mencari pekerjaan. Saya tidak tahu kalau dia telah membunuh ipar saya," kata Frasier usai persidangan.

Smith menarik perhatian pihak berwenang setelah sepupunya menghubungi polisi tentang pembunuhan Gonzales. Menurut sepupu Smith, pelaku datang ke rumahnya pada tanggal 15 Desember 2011 dan mengatakan dirinya ingin melumuri tangannya dengan darah. Setelah itu dia pergi ke rumah kosong yang dulu pernah ditempatinya.

Menurut dokumen pengadilan, keesokan harinya, Smith kembali ke rumah sepupunya dengan darah memenuhi tangan, celana dan kapaknya.

Kepada sepupunya, Smith mengatakan kalau dirinya sedang tidur di beranda rumah kosong tersebut ketika dirinya dibangunkan oleh seorang pria. Smith pun mengaku memukuli wajah dan kepala pria itu dengan kapak. Dia juga mengaku mengambil satu mata korban dan sebagian otaknya lalu memakannya di kuburan sekitar lokasi.

Sepupu Smith kemudian menelepon ibu Smith yang menyarankan polisi untuk memeriksa rumah kosong tersebut. Ibu Smith pun menyebutkan bahwa putranya itu memiliki masalah kejiwaan.

Wanita Ini Dibunuh Karena Melahirkan Anak Perempuan

@IkadaNewsOnline - Wanita Ini Dibunuh Karena Melahirkan Anak Perempuan - Wali Hazrata diduga telah ikut membunuh menantunya, Storai, hanya karena menantunya melahirkan anak perempuan lagi, sementara putra Hazrata yang adalah suami Storai mengharapkan kelahiran anak laki-laki.

Seorang perempuan muda Afganistan melahirkan bayi perempuan yang ketiga tiga bulan lalu. Namun, kata pihak berwenang, suaminya menuntut seorang anak laki-laki.

Minggu lalu, pria itu dan ibunya, yang tinggal di Provinsi Kunduz di Afganistan utara, melilitkan tali di leher perempuan tersebut lalu mencekiknya hingga tewas, kata polisi.

Jenazah perempuan itu, yang hanya dikenal sebagai Storai (22) ditemukan polisi beberapa jam kemudian di kamarnya. Storai dikuburkan sehari kemudian, yaitu pada tanggal 26 Januari. Demikian laporan harian The New York Times, Senin (30/1/2012).

Kematian Storai merupakan sebuah reminder mengerikan tentang status kaum perempuan di Afganistan. Hal yang juga mengganggu adalah kenyataan bahwa sang suami, yang diidentifikasi sebagai Sher Mohammad (30), dicurigai sebagai anggota milisi lokal. Milisi, kata para pejabat polisi dan pemerintah, telah menjamur di kawasan itu. Mereka telah terlibat pelanggaran hukum dan kekerasan, termasuk dalam rumah tangga.

The New York Times yang mengutip keterangan polisi melaporkan, Storai menikah empat tahun lalu, saat dia masih berumur 18 tahun. Sebelum melahirkan anak ketiga itu, ia sudah punya dua anak perempuan lain, yang masing-masing berumur 3 tahun dan 2 tahun.

Pada bulan-bulan setelah kelahiran putri ketiganya, suami dan ibu mertuanya mengomeli dia. Mereka bertengkar karena Storai kembali memiliki anak perempuan, kata Nadera Geya, kepala Direktorat Urusan Perempuan di Kunduz.

Setelah kematian Storai di Mafali, sebuah desa di Distrik Khanabad di tenggara Kunduz, sang ibu mertua menempatkan sebuah tali di jendela kamar menantunya itu demi memberi kesan bahwa menantunya meninggal karena bunuh diri, kata Geya. Namun, ada tanda-tanda penyiksaan yang memunculkan kecurigaan bahwa Storai dibunuh, kata Geya lagi. "Ibu mertuanya mencekik dia dengan tali, lalu mengatakan menantunya bunuh diri. Jelas itu tidak benar," kata Geya. "Mereka membunuh dia karena mereka tidak ingin dia melahirkan anak perempuan lagi."

Sayed Hussaini Sarwar, juru bicara kepala polisi Kunduz, mengatakan, ibu mertua itu, yang bernama Wali Hazrata, telah ditangkap, tetapi Muhammad, sang suami, melarikan diri. Hazrata kini ada dalam tahanan polisi di kota Kunduz. Menurut Sarwar, perempuan itu membantah bahwa ia dan anaknya telah membunuh Storai atau bahwa putranya anggota salah satu milisi yang dikenal sebagai arbakai.

Kunduz akrab dengan kekerasan dalam rumah tangga. Desember lalu, empat pria bersenjata, juga diyakini anggota milisi arbakai, menyerbu sebuah rumah, kemudian menyiramkan air keras kepada tiga gadis usia sekolah dan ibu mereka. Aksi brutal itu diduga merupakan upaya balas dendam karena lamaran nikah dari salah seorang penyerang terhadap salah seorang dari ketiga gadis itu ditolak oleh ayah para gadis tersebut.

Manizha Naderi, direktur eksekutif Women for Afghan Women, yang mengelola tempat penampungan bagi perempuan korban kekerasan, mengatakan, walau ia telah melihat kasus-kasus perempuan yang diintimidasi oleh suami mereka melalui kehamilan, dan kadang-kadang suami bahkan mengambil istri kedua atau ketiga jika istri pertama terus melahirkan anak perempuan, pembunuhan merupakan sesuatu yang tidak biasa. "Gadis-gadis dipandang rendah di Afganistan," kata Naderi seperti dikutip The New York Times. "Saya telah mendengar banyak kasus di mana istri diancam dengan kekerasan dan dipukuli, tapi saya belum pernah mendengar seorang perempuan dibunuh karena melahirkan seorang bayi perempuan."

Heather Barr, peneliti Afganistan yang bekerja untuk Human Rights Watch, mengatakan, ada sebuah toleransi budaya bagi kekerasan terhadap perempuan dan impunitas bagi para pria yang melakukan itu di Afganistan. Ia menambahkan, berbagai upaya belakangan ini untuk melindungi kaum perempuan kurang memberi dampak. "Apa yang sangat mengecewakan adalah bahwa UU Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 2009 seharusnya merubah hal ini, tetapi hal itu memiliki dampak yang sangat kecil sejauh ini," kata Barr. Dia mengatakan, aturan dalam KUHP menentukan, seorang suami dapat membunuh istrinya karena berhubungan seks di luar pernikahan.

Pihak kepolisian mengatakan, Sher Mohammad saat ini dilindungi oleh seorang komandan lokal arbakai bernama Qaderak di Khanabad.

Kelompok-kelompok bersenjata telah menjamur di Afganistan utara dalam dua tahun terakhir. Mereka beroperasi secara lokal, kadang-kadang demi melindungi lingkungan dan desa-desa mereka. Namun, sering kali mereka meneror serta memeras uang dan barang milik warga. Kunduz terbelit oleh masalah milisi ini.

Sebagian kecil dari milisi itu yang merupakan bagian dari program yang dijalankan pasukan khusus Amerika yang melatih mereka sebagai penjaga lingkungan untuk masyarakat mereka sendiri—sebuah program yang koalisi katakan akan diakhiri dan diserahkan kepada otoritas Afganistan. Kelompok-kelompok yang lain sering menerima senjata dan sejumlah dukungan finansial dari pemerintah karena mereka berfungsi sebagai penyangga terhadap gerilyawan Taliban.

Para anggota arbakai diduga bertanggung jawab atas sejumlah kasus pembunuhan lain, serta penculikan dan pencurian, di Provinsi Kunduz, kata Shah Zaman Waziri, komandan Brigade Kedua Tentara Nasional di Kunduz. Ada sekitar 3.000 anggota milisi seperti itu di provinsi tersebut, tetapi jumlah mereka terus menurun, katanya. Polisi Khanabad mengatakan, ada sekitar 1.000 milisi di Kabupaten Khanabad saja.

Tahun ini, terkait kasus-kasus kebrutalan terhadap perempuan lainnya, tiga orang gadis tewas di Distrik Imam Sahib. Mereka dibunuh para calon suami mereka setelah keluarga gadis-gadis itu tidak mengizinkan mereka untuk menikah, kata Geya dari direktorat urusan perempuan di Kunduz.