@IkadaNewsOnline - Lakukan Hal Ini Saat Otak Anda Sudah Tak Mau Diajak Berpikir Lagi - Olahraga memang bagus untuk kesehatan jangka panjang, termasuk menjaga fungsi otak dari risiko pikun. Ada juga manfaat jangka pendeknya, yakni mendongkrak stamina otak dalam berpikir sehingga tidak cepat mengalami keletihan mental.
Di tingkat sel, manfaat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari peningkatan stamina otot. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan, olahraga bisa merangsang pembentukan mitokondria yakni penghasil energi di tingkat sel yang membuat otot makin kuat.
Kini, sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di University of South California menunjukkan bahwa mekanisme yang sama juga terjadi pada sel-sel otak. Olahraga secara teratur bisa merangsang pembentukan mitokondria, sehingga otak memiliki stamina berlipat ganda.
Dalam jangka panjang, sejak dulu olahraga sering dikaitkan dengan pencegahan risiko pikun khususnya karena penyakit Alzheimer. Kini para ahli makin meyakini, manfaat itu berhubungan dengan pembentukan mitokondria atau penghasil energi di tingkat sel.
Menariknya lagi, manfaat ini tidak hanya dirasakan untuk jangka panjang seperti dalam mencegah kepikunan dini tetapi bisa juga dirasakan dalam jangka pendek. Sesaat setelah olahraga, otak menjadi lebih bugar dan tidak mudah mengalami keletihan mental.
"Bukti-bukti dalam penelitian ini terakumulasi dengan sangat cepat, menegaskan bahwa olahraga dapat menjaga sel-sel otak agar selalu awet muda," kata Dr Mark Davis yang memimpin penelitian tersebut seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (2/3/2012).
Adanya manfaat jangka pendek dari olahraga dibuktikan pada sekelompok tikus, yang disuruh olahraga selama beberapa waktu lalu diamati sel-sel otaknya di laboratorium. Eksperimen ini tidak mungkin dilakukan pada manusia, karena otaknya harus dibedah dikeluarkan dari kepala.
sumber: detikcom
Cari Artikel Disini
Home » otak
Tampilkan postingan dengan label otak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label otak. Tampilkan semua postingan
Waspadalah !!! Semut bisa makan otak manusia sampai mati
@IkadaNewsOnline - Waspadalah !!! Semut bisa makan otak manusia sampai mati - insiden Pertama : seorang anak kecil meninggal karena ahli bedah yang menemukan semut di otaknya,Rupanya anak ini tertidur dengan beberapa permen di mulutnya atau di samping tempat tidurnya. Semut itu merangkak ke teLinganya dan akhirnya berhasil masuk ke otaknya. Ketika ia terbangun ,ia tidak menyadari bahwa semut telah berada di dalam kepalanya.Setelah itu , ia terus menerus mengeluh tentang gatal di sekitar wajahnya.Ibunya membawanya ke dokter, tapi dokter tidak tahu apa yang salah dengan dia. Ia mengambil sebuah X-ray dari anak itu dan ngeri, ia menemukan sekelompok semut hidup di tengkoraknya. Karena semut masih hidup, dokter tidak bisa mengoperasi anak tersebut karena semut terus-menerus bergerak. Anak itu akhirnya mati. Jadi harap berhati-hati ketika meninggalkan bahan makanan di dekat tempat tidur Anda atau ketika makan di tempat tidur. Ini mungkin menarik semut. Yang terpenting, JANGAN PERNAH anda atau anak anda makan permen sebelum tidur. Anda atau anak anda mungkin tanpa disadari telah menarik semut saat anda tertidur.
Insiden Kedua : Kejadian serupa terjadi di sebuah rumah sakit di taiwan. Orang di rawat di rumah sakit dan selalu di peringatkan oleh perawat untuk tidak meninggalkan bahan makanan di dekat tempat tidur karena ada semut. Dia tidak mengindahkan nasihat mereka. Semut akhirnya sampai ke kepalanya. Anggota keluarganya mengatakan bahwa orang itu terus menerus mengeluh sakit kepala. Dia meninggal dan diotopsi. Dokter menemukan sekelompok semut hidup di kepalanya. Ternyata, semut telah makan sebagian kecil dari otaknya.
Ini Kisah Renungan ' Juara 1 di Otak Atau Juara 1 di Hati '
@IkadaNewsOnline - Ini Kisah Renungan ' Juara Satu di Otak Atau Juara Satu di Hati ' - Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.
Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.
Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.
Kisah Renungan, Juara Satu di Otak Atau Juara Satu di Hati
Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.
Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.
Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.
Kisah Renungan, Juara Satu di Otak Atau Juara Satu di Hati
Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.
Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.
Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.
Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.
Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.
Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?... [bodrexcaem]
Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.
Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.
Kisah Renungan, Juara Satu di Otak Atau Juara Satu di Hati
Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.
Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.
Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.
Kisah Renungan, Juara Satu di Otak Atau Juara Satu di Hati
Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.
Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.
Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.
Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.
Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.
Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?... [bodrexcaem]
Inilah 4 Vitamin yang Memperkuat Otak
@IkadaNewsOnline - Inilah 4 Vitamin yang Memperkuat Otak - Kemampuan mental manusia semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Ada yang penurunannya sangat drastis dan ada yang masih tajam daya pikirnya. Ternyata, ditemukan bahwa asam lemak omega-3, vitamin B, vitamin C, vitamin D, dan vitamin E dapat membantu mempertahankan ketajaman fungsi mental.
Peneliti mengukur kadar nutrisi pada 104 orang pria dan wanita dengan usia rata-rata usia 87 tahun. Para peneliti juga melakukan scan otak untuk menentukan volume otak dan memberikan enam tes umum untuk mengetahui fungsi mentalnya.
Setelah mengontrol faktor umur, jenis kelamin, tekanan darah, indeks massa tubuh dan faktor lainnya, para peneliti menemukan bahwa orang yang darahnya banyak mengandung 4 vitamin di atas memperoleh skor tes kemampuan mental yang lebih tinggi. Tak hanya itu, mereka juga memiliki volume otak yang lebih besar.
Omega-3 memang telah lama berkaitan dengan kemampuan mental yang baik dan menyehatkan pembuluh darah di otak, tetapi belum jelas diketahui bahwa asam lemak ini berkaitan juga dengan pembesaran volume otak. Para peneliti menduga bahwa asam lemak ini dapat meningkatkan kemampuan mental dengan cara yang berbeda.
Sebaliknya, penelitian yang dimuat dalam jurnal Neurology ini menegaskan bahwa kadar lemak trans yang tinggi dalam darah berkaitan dengan terganggunya kemampuan mental dan volume otak yang lebih kecil.
"Penelitian ini memang tidak dapat menentukan bahwa mengonsumsi suplemen bernutrisi akan mengurangi risiko demensia. Namun apa salahnya makan makanan sehat? Ikan, buah-buahan, dan sayuran memiliki nutrisi, dan menghindari jauh-jauh lemak trans adalah satu hal penting yang dapat dilakukan," pungkas peneliti, Gene L. Bowman, dari departemen neurologi Oregon Health dan Science University.
Peneliti mengukur kadar nutrisi pada 104 orang pria dan wanita dengan usia rata-rata usia 87 tahun. Para peneliti juga melakukan scan otak untuk menentukan volume otak dan memberikan enam tes umum untuk mengetahui fungsi mentalnya.
Setelah mengontrol faktor umur, jenis kelamin, tekanan darah, indeks massa tubuh dan faktor lainnya, para peneliti menemukan bahwa orang yang darahnya banyak mengandung 4 vitamin di atas memperoleh skor tes kemampuan mental yang lebih tinggi. Tak hanya itu, mereka juga memiliki volume otak yang lebih besar.
Omega-3 memang telah lama berkaitan dengan kemampuan mental yang baik dan menyehatkan pembuluh darah di otak, tetapi belum jelas diketahui bahwa asam lemak ini berkaitan juga dengan pembesaran volume otak. Para peneliti menduga bahwa asam lemak ini dapat meningkatkan kemampuan mental dengan cara yang berbeda.
Sebaliknya, penelitian yang dimuat dalam jurnal Neurology ini menegaskan bahwa kadar lemak trans yang tinggi dalam darah berkaitan dengan terganggunya kemampuan mental dan volume otak yang lebih kecil.
"Penelitian ini memang tidak dapat menentukan bahwa mengonsumsi suplemen bernutrisi akan mengurangi risiko demensia. Namun apa salahnya makan makanan sehat? Ikan, buah-buahan, dan sayuran memiliki nutrisi, dan menghindari jauh-jauh lemak trans adalah satu hal penting yang dapat dilakukan," pungkas peneliti, Gene L. Bowman, dari departemen neurologi Oregon Health dan Science University.
Edan...Usai Membunuh, Pria Ini Memakan Otak Dan Mata Korban
@IkadaNewsOnline - Edan...Usai Membunuh, Pria Ini Memakan Otak Dan Mata Korban - Connecticut - Dengan tangan diborgol, Tyree Lincoln Smith berdiri dengan tatapan kosong saat dirinya didakwa dengan pasal pembunuhan di pengadilan Connecticut, Amerika Serikat (AS). Smith membunuh Angel Gonzalez dan lebih keji lagi, pria berumur 35 tahun itu memakan otak dan mata korban!
Seperti diberitakan Telegraph, Kamis (2/2/2012), jaksa penuntut Donal Collimore mendesak hakim untuk memberikan hukuman seberat-beratnya kepada Smith atas kejahatan sadis yang dilakukannya.
Talitcha Frazier, seorang saudari ipar korban, mengatakan dirinya bertemu dengan Smith di jalan. "Saya pikir saat itu saya bilang padanya untuk mencari pekerjaan. Saya tidak tahu kalau dia telah membunuh ipar saya," kata Frasier usai persidangan.
Smith menarik perhatian pihak berwenang setelah sepupunya menghubungi polisi tentang pembunuhan Gonzales. Menurut sepupu Smith, pelaku datang ke rumahnya pada tanggal 15 Desember 2011 dan mengatakan dirinya ingin melumuri tangannya dengan darah. Setelah itu dia pergi ke rumah kosong yang dulu pernah ditempatinya.
Menurut dokumen pengadilan, keesokan harinya, Smith kembali ke rumah sepupunya dengan darah memenuhi tangan, celana dan kapaknya.
Kepada sepupunya, Smith mengatakan kalau dirinya sedang tidur di beranda rumah kosong tersebut ketika dirinya dibangunkan oleh seorang pria. Smith pun mengaku memukuli wajah dan kepala pria itu dengan kapak. Dia juga mengaku mengambil satu mata korban dan sebagian otaknya lalu memakannya di kuburan sekitar lokasi.
Sepupu Smith kemudian menelepon ibu Smith yang menyarankan polisi untuk memeriksa rumah kosong tersebut. Ibu Smith pun menyebutkan bahwa putranya itu memiliki masalah kejiwaan.
Seperti diberitakan Telegraph, Kamis (2/2/2012), jaksa penuntut Donal Collimore mendesak hakim untuk memberikan hukuman seberat-beratnya kepada Smith atas kejahatan sadis yang dilakukannya.
Talitcha Frazier, seorang saudari ipar korban, mengatakan dirinya bertemu dengan Smith di jalan. "Saya pikir saat itu saya bilang padanya untuk mencari pekerjaan. Saya tidak tahu kalau dia telah membunuh ipar saya," kata Frasier usai persidangan.
Smith menarik perhatian pihak berwenang setelah sepupunya menghubungi polisi tentang pembunuhan Gonzales. Menurut sepupu Smith, pelaku datang ke rumahnya pada tanggal 15 Desember 2011 dan mengatakan dirinya ingin melumuri tangannya dengan darah. Setelah itu dia pergi ke rumah kosong yang dulu pernah ditempatinya.
Menurut dokumen pengadilan, keesokan harinya, Smith kembali ke rumah sepupunya dengan darah memenuhi tangan, celana dan kapaknya.
Kepada sepupunya, Smith mengatakan kalau dirinya sedang tidur di beranda rumah kosong tersebut ketika dirinya dibangunkan oleh seorang pria. Smith pun mengaku memukuli wajah dan kepala pria itu dengan kapak. Dia juga mengaku mengambil satu mata korban dan sebagian otaknya lalu memakannya di kuburan sekitar lokasi.
Sepupu Smith kemudian menelepon ibu Smith yang menyarankan polisi untuk memeriksa rumah kosong tersebut. Ibu Smith pun menyebutkan bahwa putranya itu memiliki masalah kejiwaan.
Kelainan Otak Yang Disebabkan Oleh Internet
IkadaNewsOnline - Mereka yang kecanduan internet mengalami perubahan kondisi otak, sama seperti kelainan otak yang menimpa para pecandu alkohol, kokain, atau ganja. Demikian kesimpulan studi yang dilakukan terhadap 17 pemuda pecandu internet.
Menggunakan mesin pemindai MRI, peneliti membandingkan kondisi otak 17 pecandu internet dengan 16 pemuda sebaya yang tak mengalami candu internet. "Temuan kami mengindikasikan bahwa pengidap IAD (gangguan kecanduan internet) memiliki kelainan materi putih di wilayah otak yang berhubungan dengan pengolahan emosi, fokus perhatian, pembuat keputusan, dan kontrol kognitif," kata Dr Hao Lei, peneliti asal China yang memimpin studi, seperti dilansir BBC. Sekitar 5-10 persen orang yang mengakses internet diyakini mengidap candu. Mayoritas adalah mereka yang keranjingan game online. Mereka bisa menghabiskan waktu untuk nge-game berjam-jam tanpa makan dan minum, bahkan cenderung mengabaikan aspek lain dari kehidupan mereka sendiri. "Kalau sudah main game, mereka cenderung mengabaikan kewajiban. Banyak yang membolos kuliah, gagal meraih gelar pendidikan, atau mengalami keretakan hubungan asmara karena secara emosional mereka sulit fokus dengan hal-hal di luar game," kata Henrietta Bowden Jones, seorang psikiater yang menangani pecandu internet. Lalu bagaimana dengan banyaknya orang yang harus menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan internet di bidang pekerjaannya? "Itu bukan kecanduan, karena kehidupan modern memang mengharuskan kita terhubung dengan internet untuk pekerjaan dan sosial. Mereka melakukannya tidak dengan cara obsesif," kata Jones. Mereka yang kecanduan bisa menghabiskan waktu begadang hingga 14 jam memainkan game online. Kondisi ini kecenderungannya berulang setiap hari. Dan, mereka umumnya sulit berhenti dan mengubah kebiasaan ini. "Kita tahu mereka-mereka inilah yang ada dalam masalah," kata Jones. Candu internet menjadi masalah yang tak bisa dianggap enteng. Seorang pelajar asal Inggris meninggal setelah bermain game selama 12 jam nonstop. Bocah ini didiagnosis mengalami deep vein thrombosis, gangguan pembuluh darah yang biasanya terjadi akibat kurang gerak dalam waktu yang lama. Sementara di Amerika Serikat, seorang wanita dijatuhi hukuman 25 tahun penjara gara-gara membiarkan putrinya yang masih tiga tahun meninggal kelaparan, sementara ia asyik dengan game fantasi 'World of Warcraft'.
Sumber
Menggunakan mesin pemindai MRI, peneliti membandingkan kondisi otak 17 pecandu internet dengan 16 pemuda sebaya yang tak mengalami candu internet. "Temuan kami mengindikasikan bahwa pengidap IAD (gangguan kecanduan internet) memiliki kelainan materi putih di wilayah otak yang berhubungan dengan pengolahan emosi, fokus perhatian, pembuat keputusan, dan kontrol kognitif," kata Dr Hao Lei, peneliti asal China yang memimpin studi, seperti dilansir BBC. Sekitar 5-10 persen orang yang mengakses internet diyakini mengidap candu. Mayoritas adalah mereka yang keranjingan game online. Mereka bisa menghabiskan waktu untuk nge-game berjam-jam tanpa makan dan minum, bahkan cenderung mengabaikan aspek lain dari kehidupan mereka sendiri. "Kalau sudah main game, mereka cenderung mengabaikan kewajiban. Banyak yang membolos kuliah, gagal meraih gelar pendidikan, atau mengalami keretakan hubungan asmara karena secara emosional mereka sulit fokus dengan hal-hal di luar game," kata Henrietta Bowden Jones, seorang psikiater yang menangani pecandu internet. Lalu bagaimana dengan banyaknya orang yang harus menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan internet di bidang pekerjaannya? "Itu bukan kecanduan, karena kehidupan modern memang mengharuskan kita terhubung dengan internet untuk pekerjaan dan sosial. Mereka melakukannya tidak dengan cara obsesif," kata Jones. Mereka yang kecanduan bisa menghabiskan waktu begadang hingga 14 jam memainkan game online. Kondisi ini kecenderungannya berulang setiap hari. Dan, mereka umumnya sulit berhenti dan mengubah kebiasaan ini. "Kita tahu mereka-mereka inilah yang ada dalam masalah," kata Jones. Candu internet menjadi masalah yang tak bisa dianggap enteng. Seorang pelajar asal Inggris meninggal setelah bermain game selama 12 jam nonstop. Bocah ini didiagnosis mengalami deep vein thrombosis, gangguan pembuluh darah yang biasanya terjadi akibat kurang gerak dalam waktu yang lama. Sementara di Amerika Serikat, seorang wanita dijatuhi hukuman 25 tahun penjara gara-gara membiarkan putrinya yang masih tiga tahun meninggal kelaparan, sementara ia asyik dengan game fantasi 'World of Warcraft'.
Sumber
Langganan:
Postingan (Atom)





